Janji Syaharani, Panaskan SIEM 2008

Bersama Magma Project, Syaharani berjanji akan memanaskan Solo International Ethnic Music Festival 2008 dengan membawakan World Music Electronicnya. Bahkan, khusus untuk penampilan di SIEM 31 Oktober 2008 nanti, ia kini sedang berlatih keras “Sekarang saya kembali berlatih membiasakan feel dan teknik vocal  untuk dapat mempersembahkan warna Magma Project yang powerfull dengan cengkok-cengkok yang khas, SIEM bakal panas deh” ujar penyanyi yang pernah mewakili Indonesia dalam North Sea Jazz Festival 2001 ini.  

 

Dalam penampilannya nanti, selain mempersembahkan lagu-lagu aransemen ulang dari album Wordl Music Electronic, Syaharani dan Magma Project akan  membawakan satu lagu bersama seorang sinden. “Judulnya Sunya Ruri, ini menjadi lagu favorit saya karena ada kolaborasi yang menarik,” jelas penyanyi berdarah Bone, Sulawesi Selatan yang akrab dipanggil Rani ini.

 

Hingga 2006 telah merilis 3 solo album jazzy dan satu pop trip-hop (Magma). Ia juga memproduseri album Magma dan Buat Kamu (SQf), menjadi song writer, serta vocal arranger.

 

Penyanyi bernama lengkap Saira Syaharani Ibrahim kelahiran Batu, Jawa Timur tahun 1971 ini juga pernah menjadi bintang tamu dalam Al Jarreau, Iskandarsyah Siregar & Folks, Dave Koz, Keith Martin dan Yellow Jackets Indonesia concert bersama Fourplay.

 

Tak hanya menyanyi, Rani juga menjadi aktris dalam teater musikal Madame Dasima, Gallery of Kisses di TIM Jakarta, film Garasi produksi Miles Film, serta membuat theme song dan vocal illustrator film “Betina” produksi 9 Palm Films (pemenang NETPAC Award Festival Film Asia 2006).

 

Di penghujung tahum 1998, Rani bergabung bersama Bubi Chen, Benny Likumahua, Sutrisno, Cendy Luntungan, dan Oele Pattiselano mengeluarkan album jazz What a Wonderful World.

 

Album solo jazz pertama Rani bertajuk Love (1999). Rani kemudian merambah ladang musik psikedelik lewat album Magma (2002) untuk memaksimalkan kualitas vokalnya. Album ini berisi 11 lagu yang bernuansa Jazz, fusion, ethnic, dan trip hop yang nge-blend  jadi satu sehingga menghasilkan apa yang Rani sebut sebagai psychedelic.

 

 “Saya berharap SIEM menjadi ajang pembelajaran dan meningkatkan daya apresiasi masyarakat, sekaligus mencerminkan perkembangan dan menjadi bagian dari konservasi budaya,” ujar Rani. Ia juga berharap SIEM menjadi festival yang menempatkan prestise bangsa Indonesia dalam pergaulan dunia. “Itu semua bisa dilakukan bila SIEM dikelola dengan baik,” pesannya mengakhiri perbincangan. (harnug)

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan