Cara Cerdas Gaya Komuter

Kerta Api ListrikDitulis oleh: Hari Nugroho

 

Hari masih pagi. Seorang pria berdasi keluar dari rumahnya yang asri. Tampak istri dan kedua anaknya mengantar kepergiannya dengan senyum mengembang. Ia lantas bergegas menuju stasiun yang tak jauh dari perumahannya, setelah turun dari ojek langganan. Sejurus kemudian kereta rel listrik (KRL) seperti menjemputnya. Laki-laki itu, adalah Marwan, berusia 35 tahun, warga Depok, bekerja di sebuah perusahaan minyak yang berkantor di kawasan Sudirman Jakarta.

Marwan, adalah salah satu dari dari sekitar tiga juta warga komuter yang tinggal di daerah penyangga Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, bahkan hingga Rangkasbitung atau Karawang dan menggantungkan hidupnya di Jakarta. Marwan adalah salah satu dari sekitar 5.000-an penglaju (istilah lain dari komuter) yang menggunakan kereta api sebagai alat transportasi.

“Naik kereta lebih irit sedikit ketimbang naik mobil, tapi tidak bikin cape di jalan, malahan bisa istirahat dalam kereta, atau baca-baca koran,” jelasnya saat ditemui di kereta Sudirman Ekspress. Kereta yang selalu membawanya pulang dan pergi bekerja. Benar, hanya Rp 9.000 Marwan bisa menikmati kereta itu sampai Stasiun Dukuh Atas. “Pulang pergi hanya menghabiskan sekitar Rp. 22 ribu saja,” akunya. Dibanding naik mobil, sekitar Rp 50 ribu-an melayang dari dompet Marwan. “Lebih irit sedikit sih, tapi lebih lancar dan selalu tepat waktu,” terang Marwan.

Hal senada diungkapkan Andi Subarkah, karyawan di sebuah perusahaan IT yang berkantor di Jl. M.H. Thamrin. Penumpang setia KRL Pakuan Ekspress jurusan Bogor- Stasiun Kota ini, memilih naik kereta karena jadwalnya yang tetap dan relatif singkat. “Hanya satu jam dari Stasiun Depok menuju Stasiun Gondangdia,” paparnya. Ia mengaku lebih suka naik kerata karena bebas macet. “Saya tidak bisa membayangkan kalau naik mobil, macet dan melelahkan,” katanya menuturkan.

Menjadi komuter dengan menumpang kereta, ujar Andi, juga ada konsekwensinya. “Kita harus menyesuaikan jadwal kereta, meski ada beberapa pilihan jadwal, kalau terlambat kita tidak punya pilihan lain,” jelasnya. Karena itulah setiap pukul 5.30 ia harus berangkat dari rumah, untuk mengejar kereta dengan jam keberangkatan 6.23 atau 6.39. “Kalau telat juga, masih ada yang berangkat pukul 7.00,” katanya. Pulangnya, Andi, harus bergegas keluar kantor tepat pukul 17.30. “Cukup sejam perjalanan, coba bayangkan kalau naik mobil, apalagi saat hujan, perjalanan bisa lebih dari 3 jam,” ujarnya menambahkan.

Meski demikian, Andi bukan tak pernah beraktivitas malam. “Kalau harus makan malam dengan klien misalnya, saya harus naik taksi, atau pakai mobil kantor diantar sopir kalau itu kegiatan kantor,” jelasnya. “Tapi aktivitas di luar jadwal kereta termalam, hampir jarang saya lakukan,” katanya menambahkan.

Bagi Moch. Harun, Humas Pertamina, naik KRL sangat menguntungkan dari sisi waktu. Meski warga Perumahan Taman Yasmin, Bogor ini memiliki mobil, toh sejak tahun 2000 ia menggunakan kendaraan beroda besi itu. “Turun Stasiun Gambir, lalu jalan kaki, sudah sampai ke kantor,” katanya menjelaskan. “Naik KRL cukup 1 jam, kalau naik mobil bisa 2 jam lebih,” tuturnya. Apalagi, lanjutnya, kalau naik mobil, kadang ia harus menunggu 2 hingga jam saat pulang hanya untuk menunggu kemacetan lalulintas mereda.

Menjadi penumpang setia KRL, tidak lantas bebas masalah. Bila terjadi masalah teknis, putusnya kabel listrik atau mati lampu misalnya, penumpang tak punya pilihan lain. “Tidak ada kereta lain di belakang, jadi harus beralih ke bus, meski harus terlambat datang ke kantor, atau tidak masuk sekalian,” papar Marwan. “Jadi seperti menyerahkan nasib pada masinis kereta deh,…” seloroh Andi.

Tak Kalah Nyaman

Fasilitas yang disediakan di KRL Ekspress sebenarnya sudah cukup memadai. Ber-AC, tempat duduk nyaman, dan lumayan aman. “Selain itu harganya relatif terjangkau,” ujar Harun. Soal keamanan? “Setidaknya saya tidak pernah kecopetan,” aku Dwi Iswandono, seorang karyawan kantor Konsultan Komunikasi yang warga Bintaro ini.

 

Namun menurut Dwi, ketepatan jadwal masih perlu pembenahan. “Masih sering terlambat,” paparnya. Pengalaman Dwi berkereta api di Singapura, rasanya belum bisa dibandingkan dengan di Indonesia. Di Singapura, Malaysia, dan New Zeland, seperti yang dituturkan Harun, kereta selalu datang tepat waktu. “Bahkan tepat dari jam, dan menitnya”.

 

Sebagai kota metropolitan, Jakarta sebenarnya sangat terlambat dalam penyediaan moda transportasi kereta. Metropolitan lainnya, lainnya bahkan telah memiliki kultur kereta sejak berdasawarsa lalu. Paris dilengkapi jaringan kereta komuter sejak tahun 1900, New York telah membangunnya sejak tahun 1904. London bahkan jauh lebih awal dari ini, yakni sejak 10 Januari 1863 dengan meresmikan penggunaan jaringan kereta bawah tanah pertama di dunia. Kini, jaringan kereta komuter London Raya melayani sekitar empat juta penumpang setiap hari.

 

Singapura sudah merasakan nikmatnya kereta komuter yang resik dan sejuk sejak tahun 1987. Manila, Bangkok, dan Kuala Lumpur juga sudah beberapa tahun lalu memiliki kereta komuter yang nyaman dan manusiawi.

 

Menurut Ahmad Sujadi, Kepala Humas PT Kereta Api DAOP I & Divisi Jabotabek, pihaknya telah merancang pembangunan jalur transportasi berbasis rel yang cepat dan antimacet sebagai alternatif moda transportasi yang dibutuhkan masyarakat, termasuk komuter.

 

“Saat ini sudah ada beberapa kereta rel listrik ekspress dengan fasilitas memadai untuk melayani penumpang se-Jabodetabek, dengan kapasitas 500 ribu penumpang perhari kerja,” jelas Sujadi. “Kedepan telah ada beberapa perencanaan yang memungkinkan untuk meningkatkan kapasitas muat penumpang hingga 1,5 juta penumpang perhari kerja,” tambahnya. Perencanaan itu diantaranya adalah pembangunan double-double track dari Stasiun Mangarai ke Cengkareng yang direncanakan akan selesai pada tahun 2014. Sayang baru rencana. (harinug)

Satu Tanggapan

  1. [...] atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Kalau sudah demikian kejadiannya, orang-orang hanya bisa pasrah, gondok, menggerutu, mengutuk, dan akhirnya [...]

Tinggalkan Balasan