Karena Kanti Pandai Menangkap Bola

Sesekali, di depan gawang futsal, Kanti berteriak memberikan perintah kepada timnya untuk berlari merebut bola. Bila bola digiring lawan main mendekati gawang, ia sedikit merunduk, merentangkan kedua tangan dan hups, Kanti menangkap bola yang ditendang kencang. Bola disergap, gawang selamat.

 

Perlombaan futsal anak-anak itu adalah salah satu bagian dari kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 63 di kampung kami.  Hingga kini masih terngiang kemeriahannya. Seluruh warga, tua, muda bahkan anak-anak ikut merayakan dengan mengikuti berbagai lomba. Salah satunya adalah Kanti, perempuan sepuluh tahun yang dipercaya teman-teman sebayanya untuk menjaga gawang tim futsal anak-anak dari RT 11/RW 12, kampung kami. Istimewanya, Kantilah satu-satunya anak perempuan di lapangan futsal itu.

 

Bagi Nino, Budi, Gani, dan Faisal, mempercayakan gawang kepada Kanti bukan tanpa alasan. “Karena Kanti pandai menangkap bola,” jelas Nino sang kapten tim. Alasan itulah yang membuat Nino tak mau ambil pusing dengan jenis kelamin Kanti. Gawang harus diselamatkan dari serbuan lawan, dan Kanti  orang yang tepat untuk tugas itu, begitu kira-kira pemikiran Nino dan jagoan-jagoan futsal kampung kami.

 

Nino, Budi, Gani, Faisal, Kanti dan sederet pemain futsal anak-anak lain di kampung kami jelas belum paham apa makna emansipasi atau kesetaraan peran, apalagi keterwakilan perempuan 30 persen dalam legislatif. Mereka belum paham urusan ideologi dan politik kaum dewasa. Tapi dari sikap mereka untuk menyusun tim, sungguh membuat saya kagum dan memberikan inspirasi bagi saya.

 

Bagaimana tidak, “dunia orang dewasa” di Indonesia yang direpresentasikan dengan dunia politik, masih gagap melibatkan kaum perempuan.

 

Pada pelaksanaan Pemilu tahun 2004 misalnya, hampir seluruh partai politik saat itu tidak memenuhi Undang-Undang No 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, terutama soal keterwakilan 30 persen perempuan di setiap daerah pemilihan, dalam daftar calon legislatif yang diajukan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

 

Ada banyak kendala sebagai penyebabnya, antara lain sedikitnya kader perempuan yang aktif dalam partai politik (parpol) sehingga sulit bagi parpol untuk secara tiba-tiba mencantumkan perempuan dalam “nomor urut jadi”. Pada 2004 lalu, keterwakilan perempuan hanya sebesar 11,6% dibandingkan dengan laki-laki.

 

Keterwakilan perempuan di lembaga parlemen pada Pemilu 2009 nanti juga diharapkan mampu memenuhi target 30% sesuai Undang- Undang (UU) Politik No 2 dan 10 Tahun 2008.

 

Tentu upaya melibatkan perempuan lebih banyak lagi dalam dunia politik perlu diantisipasi kaum perempuam dengan mengambil kesempatan suara tersebut sehingga keterwakilan perempuan mencapai target. Hal ini menjadi penting karena kesadaran gender masih lebih kecil jika dibandingkan kaum laki-laki. Bila keterlibatan perempuan tidak terpenuhi, tentu sangat disayangkan karena perempuan juga merupakan agent of change dalam satu pemerintahan.

 

Bagi partai politik, melibatkan sebanyak mungkin perempuan untuk menjadi caleg Pemilu 2009 nanti, bukan urusan yang mudah. Dari daftar caleg yang masuk di KPU, terdapat caleg perempuan yang ternyata sebelumnya hanya menjadi penjaga kantin sekolah, ibu rumah tangga yang hanya berpengalaman mengikuti kegiatan PKK, pedagang bakso, bahkan ada yang hanya memiliki pengalaman berorganisasi di Organisasi Siswa Intra Sekolah alias OSIS.

 

Tanpa bermaksud merendahkan seluruh profesi dan pengalaman tadi, saya menjadi berpikir bagaimana mungkin perubahan negeri ini dan pengelolaan bangsa ini dipercayakan oleh mereka yang minim pengalaman bahkan mungkin pemahaman terhadap politik. Partai seolah hanya “main comot” untuk memenuhi 30% keterwakilan perempuan. Tentu, ini membahayakan, karena proses pencalegan tak ubahnya “membeli kucing dalam karung”, bukan memilih orang yang tepat, sesuai kapasitasnya untuk mewakili suara rakyat di gedung parlemen nanti.

 

Di panggung pertunjukan HUT RI ke 63 di kampung kami, ada senyum yang mengembang di bibir Kanti. Juga teman-teman tim futsalnya. Mereka mendapatkan hadiah dari ketua RW sebagai juara pertama pertandingan futsal antar RT. Bagi Nino, juga jagoan-jagoan futsal lainnya di kampung kami, kemenangan itu salah satunya disebabkan karena mereka memilih orang yang tepat untuk menjaga gawang. Ya, mereka memilih Kanti, karena ia pandai menangkap bola. (harnug)

3 Tanggapan

  1. Terimakasih sudah berkontribusi untuk Mediabersama.
    Kami tunggu karya selanjutnya.

    Salam hangat selalu

    -yani-

  2. jd teringat lirik lagu: mereka ada di jalan-nya Iwan Fals..

    hehehehe

    anak kota… tak mampu beli sepatu
    anak kota… tak punya tanah lapang
    sepak bola menjadi barang yang mahal…
    milik mereka… yang punya uang saja…
    dan sementara.. kita disini.. di jalan ini

    ….

    anak kost… tak mampu beli atribut..
    anak kost… tak punya partai besar…
    ikut caleg.. menjadi barang yang mahal…
    milik mereka.. para juragan saja..
    dan sementara.. kita disini.. di kamar ini… :)

  3. wow bisa jadi keeper perempuan pertama yang jago nih :P

    hehe
    maju terus ;)

    regards,
    http://www.arenabetting.com
    Kami satu-satunya agent bola yang dipercaya dengan reputasi tinggi.
    Pencarian Anda Berakhir Disini.Join http://www.arenabetting.com! 100% Terpercaya

Tinggalkan Balasan