SK Trimurti, Jurnalis Pembela Perempuan

SK TrimurtiDitulis oleh: Hari Nugroho

Tubuhnya kini hanya tergolek di atas ranjang. Hari-harinya mungkin terasa kian panjang. Tapi guratan wajahnya seperti masih menyisakan semangat hidup yang panjang pula.

 

Sesekali ia meronta dari ikatan yang membalut tangannya. Ikatan yang sebenarnya membelenggunya, tapi dilakukan demi kasih sayang orang-orang terdekatnya. Kini ia adalah gambaran kekuatan dari masa lalu, masa dari tiga jaman yang telah dilewatainya.

Namanya tercatat dalam sejarah dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Coretan dan tulisannya/ meninggalkan bekas di kalangan wartawan tiga jaman.

Melalui karya-karya dan tulisannya, ia bahkan pernah menjalani hidup di bui Belanda (1936-1943). Bahkan, anak partamanya lahir dalam penjara Belanda yang kumuh dan sempit kala itu,

SK Trimurti waktu mudaWanita kelahiran Solo, 11 Mei 1912 tidak lain tidak bukan adalah istri dari penulis naskah otentik proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945/ Muhammad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal dengan Sayuti Melik. Menikah ditahun di tahun 1938 namun kemudian bercerai pada tahun 1969. Dari perkawinan mereka lahir dua orang putra yang diberi nama Moesafir Karma Boediman (MK Boediman) dan Heru Baskoro.

Di usia senjanya, ia masih tetap menuangkan kritikan-kritikan tentang apa yang tejadi disekitar dalam tulisan dan goresan diatas kertas. Sikap ramah dan penuh kesopanan, menuntunnya dalam mengungkap fakta-fakta ketidakadilan.

SK Trimurti, demikian ia lebih dikenal, lahir dari pasangan Salim Banjaransari Mangunsuromo dan Saparinten binti Mangunbisomo. Nama Karma dan Trimurti yang sering dimunculkannya, digunakannya sebagai samaran secara bergantian untuk untuk menghindar dari delik pers masa pemerintahan kolonial Belanda.

Rupanya siasat itu tidak sampai meloloskannya dari penjara pemerintah Belanda. Sampai-sampai, ia harus melahirkan anak pertamanya Mohammad K Budiman tahun 1939 di lorong penjara penjajah Belanda.

Wanita yang menjadi Menteri Perburuhan pertama pada era Soekarno ini, mengenal dunia politik sejak ia tamat dari Sekolah Ongko Loro, yang waktu itu lebih dikenal dengan sebutan Tweede Inlandsche School. Saat menjadi guru dan sering mendengar pidato Bung Karno, diradio-radio, ia pun tergerak untuk aktif sebagai kader di Partindo. Di partai tersebut, Surastri mengenal Sudiro, Sanusi Pane dan Intojo.

Pada masa-masa itu, saat mengajar di Bandung, Surastri sempat menetap dirumah Ibu Inggit Ganarsih, yang saat itu menjadi contoh tauladan bagi gadis-gadis sebaya Surastri/ karena oleh Bung Karno, Ibu Inggit dikatakan sebagai Srikandi Indonesia.

Akibat keaktifannya di dunia perjuangan, SK Trimurti sempat merasakan dinginnya dinding penjara pada tahun 1936. Ia dihukum di Penjara Wanita, di Bulu, Semarang, akibat menyebarkan pamflet anti penjajah. Sekeluarnya ia dari penjara/ karena tidak boleh lagi mengajar, Surastri pun bekerja di sebuah percetakan kecil/ yang merupakan percetakan kaum pejuang. Disinilah ia belajar tentang membuat koran atau mencetak majalah. Dan bakat menulisnya pun mulai terlihat.

Pada tahun 1937, SK Trimurti berkenalan dengan Sayuti Melik. Kedua orang aktivis politik ini pun mengikat janji untuk menjadi suami istri pada 19 Juli 1938. Maka jadilah mereka pasangan suami istri yang saling bahu membahu dalam dunia perjuangan. Dalam masa pernikahannya itu, Sayuti dan Trimurti mengalami romantisme perjuangan. Bahkan demi membela Sayuti, yang menulis artikel berisi anjuran agar rakyat Indonesia tidak membantu Belanda dan dimuat di majalah tempat Trimurti bekerja, Surastri rela mengaku itu tulisannya sehingga ia dikenakan tahanan luar, karena saat itu ia tengah mengandung anak pertamanya.

Pada masa kemerdekaan, oleh Soekarno, SK Trimurti diangkat sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, mulai dari 3 Juli 1947 sampai 23 Januari 1948. Awalnya ia merasa tidak mampu, namun berkat bujukan Drs Setiajid, hatinya pun luluh. Namun kabinet tersebut tidak berjalan lama.

Pensiun jadi menteri, SK Trimurti menjadi anggota Dewan Nasional RI Ia juga melanjutkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan tamat tahun 1960. 1962 hingga 1964, ia diutus oleh Pemerintah RI ke Yugoslavia untuk mempelajari Worker’s Management dan ke negara-negara sosialis lainnya di Eropa untuk mengadakan studi perbandingan mengenai sistem ekonomi. Karena dedikasinya kepada dunia perburuhan/ SK Trimurti diangkat sebagai anggota dewan pimpinan Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI).

Meski bergelut dalam dunia perburuhan, timbul rasa rindu dihatinya untuk kembali menekuni dunia jurnalistik. Maka ia pun menerbitkan majalah yang diberi nama Mawas Diri, yang memuat soal-soal kekagamaan, aliran kepercayaan, soal-soal etika, moral dan sebagainya.

Kini wanita yang sudah berusia 95 tahun itu, tinggal sendiri di rumah mungilnya di Jalan Kramat Lontar H-7, Kramat, Jakarta Pusat. Rumah sederhana itu jauh dari kemegahan dan kementerengan. Anaknya, Heru Baskoro lantas memindah ke rumahnya di kawasan Bekasi, agar memudahkannya untuk merawat.

Kini perempuan yang kupanggil Eyang itu cuma terbaring di atas ranjang. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui tentang keadaan dirinya padahal ia punya peran dalam menghantarkan bangsa Indonesia menikmati kemerdekaannya. Cepat sembuh pejuangku ! (***)

4 Tanggapan

  1. masih banyak orang yang memperhatikan SK Trimurti. jasa2nya akan terpatri dalam sejarah indonesia. sampai kapan pun

  2. Kini pahlawan itu telah istirahat dengan tenang…

    selamat jalan pahlawan….

  3. Foto-fotonya bagus. Saya pake di blog saya, dengan menuliskan sumbernya.

    BTW, bisa tahu bagaimana cara mendapatkan foto itu? Hardcopynya? Izinya (mungkin dari ahli waris atau keluarga)? Ada sejarawan Michigan yang akan memakai foto itu dalam bukunya. Terima kasih.

  4. Foto2nya ada di Jl. Palem V Blok F 1001, Perumahan Mas Naga, Kelurahan Jaka Mulya, Bekasi Selatan 17146. Telp 824 32813
    Tapai saya, anaknya, sedang di Kanada. Nanti kalau pulang saya beritahu.

Tinggalkan Balasan